Ngobrol Kebangsaan

Belajar dari sejarah kelam Komunisme di Indonesia

Rabu,30 September 2020, Smait Bina Insani mengadakan peringatan peristiwa pengkhianatan PKI terhadap ideologi bangsa, Pancasila. Kegiatan yang diisi dengan pemutaran film dokumenter tentang PKI, baik dalam peristiwa 30 September 1965 dan juga pemberontakan PKI di awal kemerdekaan pada September 1948. Ngobrol kebangsaan dipandu oleh Ust Taufik Imron Sanwani dan pemateri Bang Ahmad Fathul Bari. Bang Ai, sapaan sehari-harinya, memaparkan bukan hanya gerakan PKI yang harus dibahas, tapi juga beliau menyampaikan bagaimana peran umat Islam dalam sejarah bangsa ini. Jangan hanya kita berkutat dalam kontroversi PKI, tapi kita harus mempelajari dan mengambil hikmah dari gerakan Islam yang sangat besar jasanya bagi bangsa Indonesia. Dua kado besar umat Islam bagi Indonesia adalah Pancasila dan NKRI. Jadi oleh karena itulah, selayaknya umat Islam khususnya generasi muda Islam haruslah menjadi garda terdepan yang menjaga Pancasila dan NKRI. Jangan sampai juga kejadian pemberontakan seperti PKI terjadi lagi di negeri ini. Di akhir acara, siswa siswi SMAIT Bina Insani juga berkomitmen untuk senantiasa setia dengan Pancasila dan NKRI, serta menolak komunis di Indonesia.

Seri 1 Peringatan Sejarah kelam Komunisme di Indonesia JAS MERAH, Jangan sekali Sekali meninggalkan sejarah, kata-kata ini dilontarkan Bung Karno pada 17 Agustus 1966 dalam pidato kepresidenan Bung Karno yang terakhir. Sejarah yang terukir dan harus selalu diingat dalam bulan September ini adalah sejarah pemberontakan PKI dengan ideologi Komunisnya pada September 1948 dan September 1965. Pemberontakan pertama PKI terhadap Negara ini terjadi pada bulan September 1948. Pemberontakan ini adalah peristiwa pertama sejak Indonesia merdeka. Pemberontakan itu sendiri dipicu oleh ketidaksetujuannya para kaum komunis dengan ideologi Pancasila yang dibentuk dan diciptakan oleh bapak bangsa, Sukarno beserta para pembantunya, tidak lama setelah Indonesia merdeka. Pemberontakan kedua PKI adalah peristiwa gerakan 30 september 1965, yang sering disebut gestapu atau G 30 S PKI. Peristiwa kelam ini seperti diketahui terjadi pada tanggal 30 September 1965 dimana enam jendral dan satu perwira menengah menjadi korban kebiadabannya. Seperti peristiwa pemberontakan PKI tahun 1948, peristiwa yang akhirnya menjadi tonggak sejarah lengsernya kepemimpinan Sukarno ini juga ingin merubah ideologi Pancasila dengan faham komunis. Dari dua peristiwa tersebut, menjadi pelajaran besar bagi bangsa ini, sehingga keluarlah TAP MPRS no XXV tahun 1966 yang melarang PKI di Indonesia dan segala jenis paham komunisme. Sebagai bentuk nasionalisme dan pembelajaran sejarah, SMAIT Bina Insani Boarding School mengadakan ‘Ngobrol Kebangsaan’ untuk mengingat bahaya Komunisme atas bangsa dan menguatkan peserta didik tentang ideologi Pancasila serta pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Ngobrol kebangsaan akan diadakan pada Rabu, 30 September 2020, dengan menghadirkan tokoh muda nasional, Ahmad Fathul Bari, sebagai narasumber.

Seri 2 Peringatan Sejarah kelam Komunisme di Indonesia JAS HIJAU, Jangan sekali sekali Hilangkan Jasa Ulama. Jauh sebelum peristiwa pembantaian tujuh jendral, 30 September 1965, umat Islam telah mencium gelagat petaka buruk akan terjadi yang ditimbulkan PKI terhadap NKRI. Berkat hidayah Allah, penciuman Umat Islam –melalui Ulamanya, memang sangat tajam. Itulah sebabnya, umat Islam di negeri ini adalah bagian bangsa yang paling cepat memberi reaksi terhadapa rencana aksi jahat Partai Komunis Indonesia itu. Ummat Islam melakukan langkah antisipasi dengan menggelar Kongres Ulama di Palembang, Sumatera Selatan, 8-11 September 1957 : delapan tahun sebelum peristiwa berdarah di lubang buaya. Keputusannya adalah, antara lain : mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan dekrit pelarangan PKI dan semua mantel organisasinya. Tetapi sayangnya, suara ulama seringkali diabaikan begitu saja –termasuk oleh Presiden Soekarno. Soekarno menolak mengeluarkan dekrit pelarangan PKI. Beliau justeru merangkulnya ke dalam satu slogan politik NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis), tahun 1960. Dengan demikian PKI semakin melembaga, sebagai bagian dari Pemerintahan RI.Musuh PKI itu adalah TNI dan Islam, PKI yang hendak merubah ideology Pancasila tentunya akan mendapat tentangan dari TNI. PKI yang anti Tuhan tentunya juga akan berhadapan langsung dengan Islam. Pembantaian yang dilakukan PKI, bukan hanya kepada para Jenderal2 yang menolaknya. PKI juga melakukan pembantaian terhadap para santri dan kyai di pondok-pondok pesantren. Salah satu pondok yang menjadi korban radikalisme PKI adalah Pondok Pesantren Gontor yang menjadi amuk massa PKI. PKI tidak dapat menemui para santri, karena santri sudah lebih dahulu meninggalkan pondok, alhasil PKI membumi hanguskan beberapa bangunan, kitab-kitab bahasa arab dibakar. Masih banyak lagi kisah aksi pembantaian PKI yang dilakukan kepada santri dan ulama. Hal ini tentunya menjadi perhatian kita semua, bahwa PKI tidak layak untuk hadir dan berkembang di Indonesia. PKI sendiri tidak akan pernah setuju dengan Pancasila. Oleh karena itu, mari kita kuatkan pemahaman kita kepada Pancasila, terutama untuk anak didik kita. Pancasila akan selalu menjadi ideologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rabu, 30 September 2020, SMAIT Bina Insani Boarding School mengadakan “Ngobrol Kebangsaan” untuk menguatkan pemahaman Pancasila dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari siswa SMAIT Bina Insani. Dengan menghadirkan tokoh muda nasional, Ahmad Fathul Bari, diharapkan para siswa dapat tampil terdepan sebagai generasi muda Muslim yang kokoh dengan Pancasila sebagai cara pandangnya.

Di akhir acara, siswa siswi SMAIT Bina Insani juga berkomitmen untuk senantiasa setia dengan Pancasila dan NKRI, serta menolak komunis di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*