
SMAIT BI LUNCURKAN BPI 24-25 DENGAN GRAND OPENING KHUSYU MERIAH
Serang – Menurut Pedoman Umum Bahasa Indonesia (PUBI) Grand Opening adalah sebentuk acara resmi yang menandai pembukaan pertama kali sebuah bisnis, organisasi, kegiatan, atau fasilitas kepada publik. Acara ini biasanya dirancang untuk menarik perhatian, meningkatkan kesadaran, dan membangun antusiasme terhadap bisnis, organisasi, kegiatan, atau fasilitas baru tersebut
Sejalan dengan hal itu, pengelola kegiatan Bina Pribadi Islami (BPI) SMAIT Bina Insani mengawali rangkaian kegiatan BPI di tahun ajaran 2024-2025 dengan sebuah Grand Opening sebagai penanda dimulainya agenda BPI selama setahun kedepan. Acara yang dilaksanakan pada Kamis (25 Juli 2024) di Masjid As Sunnah Bina Insani tersebut bertujuan untuk memperkenalkan kegiatan BPI kepada setiap peserta didik terutama para peserta didik baru.
“Secara khusus, (acara) ini juga untuk memberikan pembekalan kepada setiap peserta didik, apalagi materi yang disajikan sangat relevan dengan kondisi mereka yang memasuki rentang usia pemuda,” papar pak Mohamad Syafi’I, S.Pd.I. selaku Waka 2 SMAIT Bina Insani sekaligus menggawangi kegiatan yang diikuti oleh seluruh peserta didik dari kelas 10 hingga 12 ini.
Sementara itu, Bapak Fahrudin, S.Pd.I., selaku Ketua Bidang Akademik YABICA, didapuk oleh panitia untuk menyampaikan materi tentang “Menjadi Pemuda yang Hijrah” dalam acara yang dimulai dengan kumandang bacaan Al Qur’an oleh Umarul Faruq Al Ghazy (kelas 10) itu, menyampaikan pentingnya seorang pemuda agar bisa menjadi diri sendiri dan tidak bergantung pada nama besar orang tuanya. “Laisal fataa man yaquulu kaana abii, walakinnal fataa man yaquulu haa ana dza, Bukanlah seorang pemuda yang berkata ‘Inilah Bapakku’, tetapi yang dikatakan pemuda adalah ‘Inilah aku!” tegas ustadz yang biasa dengan panggilan Pak Fahri tersebut mengutip perkataan Ali bi Abi Thalib ra.
Seluruh peserta pun cukup antusias mengikuti acara sampai selesai, tidak terkecuali Khairani Azilla. Siswa kelas 10 ini mengaku bahwa materi yang disampaiakan cukup seru dan tidak membuatnya jenuh, bahkan ia merasa banyak pelajaran yang dapat diambil serta termotivasi untuk dapat bersikap mandiri dan tidak selalu mengandalkan orang tua. “Kita jadi tersadar ternyata kalo masa akan datang leih besar tantangannya dari pada zaman sekarang,” imbuhnya seraya menyimpulkan. (tiss_@/humassmait).
Dokumentasi Selengkapnya KLIK DISINI!



